Indonesia Masuk dalam Buku Tulisan Obama “The Audacity of Hope (2006)”

tulisan Budiarto Shambazy

administration_barack3

Di buku ini dan juga buku Dreams from My Father (1996) Barry banyak menyinggung periode dia tinggal di Jakarta tahun 1968-1971. ”Ia termasuk anak hiperaktif. Kami tak berhenti bermain kelereng, tak gebok, tak lari, dan gambaran,” kata Rully Dasaad, sohib Barry di SD Besuki. ”Waktu tiga bulan pertama Barry anak alim. Tetapi, setelah itu nakal. Tingkat kebandelan kami masih wajar,” ujar Rully, yang kini fotografer profesional.

”Saya ingat kalau bermain detektif ala film serial I Spy Barry memilih peranan aktor kulit hitam di film itu, Bill Cosby. Padahal, Barry itu tak terlalu hitam karena ibunya bulé,” kenang Rully. Berbicara tentang ibunya, suatu kali Ann Dunham datang ke SD Besuki untuk memprotes guru siapa yang usil melempar kepala anaknya dengan batu sampai bocor.           

Apa bakat Barry yang menonjol? ”Ia senang menggambar. Saya suka bawa komik-komik impor ke kelas, Barry suka meniru gambar Superman, Batman, atau Spiderman. Kami sering bertukar koleksi komik, ia suka membaca komik yang waktu itu terkenal, Wiro Si Anak Rimba. Tetapi, jangan suruh Barry bernyanyi. Pernah dia disuruh guru nyanyi lagu untuk mengenang pahlawan, Syukur. Wah, lucu banget,” kenang Rully lagi.

Ketika terbit, Hope bertengger selama sembilan pekan di Daftar Buku Terlaris. Bangsa Amerika Serikat tak pernah bosan didongengi kisah ”Obambi” ini. Film Bambi bercerita tentang seekor anak rusa lugu yang berkenalan dengan kejamnya rimba belantara. Barry calon presiden terfavorit Demokrat meskipun dianggap ”mentah” alias kurang berpengalaman.

Ibu Barry asal Kansas, ayahnya orang Kenya. Bapak tirinya Lulu Soetoro. Waktu kecil Barry hidup sederhana di Jakarta, saat dewasa pengacara top lulusan Harvard. Setiap orang terkesiap mendengar ia menyebut namanya ”Barry Hussein Obama” (mirip Saddam Hussein dan Osama bin Laden) sambil mengulurkan tangan saat kampanye jadi anggota Senat di Springfield, Illinois.

Hope ibarat skripsi berpredikat summa cum laude yang meluluskan Barry sebagai pemimpin masa depan. Ia terpilih sebagai Senator Negara Bagian Illinois setelah meniti karier dari bawah. Ia bukan dari keluarga politik yang mapan seperti trah Bush atau Kennedy, tetapi dielu-elukan sebagai penjelmaan John Fitzgerald Kennedy. Nama Barry meroket ketika dipilih sebagai pengucap pidato kunci Konvensi Partai Demokrat 2004.

”Tak ada orang hitam Amerika dan orang putih Amerika dan orang Latin Amerika dan orang Asia Amerika—yang ada hanyalah Amerika Serikat. Saya tak punya pilihan lain kecuali memercayai visi Amerika. Sebagai anak lelaki hitam dan perempuan putih, sebagai orang yang lahir di Hawaii yang multirasial bersama saudara tiri yang separuh Indonesia, punya ipar dan keponakan keturunan China, punya saudara-saudara mirip Margaret Thatcher…, saya tak bisa setia pada sebuah ras saja.”

Di Hope, Barry menulis esai mengenai tanah airnya yang ketiga, Indonesia. Sepanjang sepuluh halaman ia mengulas evolusi Indonesia dari sebuah kampung besar, lalu jadi antek politik dan ekonomi AS, kemudian mengalami krisis moneter dan reformasi, sampai jadi negara yang tak toleran lagi.

Rumahnya di Jakarta tak berkakus duduk, di halaman belakang ada beberapa ekor ayam peliharaan, dan di dekat jendela banyak jemuran bergelantungan. ”Jenderal-jenderal membungkam hak asasi, birokrasinya penuh korupsi. Tak ada uang untuk masuk ke sekolah internasional, saya masuk sekolah biasa dan bermain dengan anak-anak jongos, tukang jahit, atau pegawai rendahan,” tulisnya. Bagi Barry, Indonesia kini tak sama lagi. ”Indonesia terasa jauh dibandingkan dengan 30-an tahun yang lalu. Saya takut ia menjadi tanah yang asing,” tulisnya.

Di buku Dreams of My Father, ia banyak bercerita tentang ayah kandungnya, jebolan University of Hawaii (UH) yang jadi anggota Phi Beta Kappa—komunitas akademisi elitis yang susah diterobos masuk orang luar AS. Ia diterima di Harvard dan pulang meninggalkan Barry kecil untuk mengabdi negaranya. Ayahnya dari suku Luo yang lahir di Alego yang menikahi ibu Barry tahun 1959 di Honolulu saat miscegenation (pernikahan antarras) dilarang di banyak negara bagian Amerika Serikat.

Ia penerima beasiswa pertama asal Afrika di UH dan belajar ekonometri dengan menggaet terbaik di angkatannya. Barry Junior juga lulus dari Harvard Law School dan jadi presiden kulit hitam pertama di Harvard Law Review—jurnal hukum berwibawa. Ia senator kulit hitam yang ketiga dalam sejarah Amerika Serikat.

Dreams bercerita tentang perjalanan hidup dia yang biasa saja. Ia dari kecil hidup dengan ayah tiri, waktu remaja ditinggal ibu, dan sampai dewasa diasuh kakek-nenek. Ia pernah tinggal di Honolulu, Jakarta, New York City, Boston, Chicago, Springfield, kini Washington DC. Tanpa malu ia mengaku pernah dijerat ganja dan alkohol serta menjadi perokok berat selama bertahun-tahun.

Ia memiliki keyakinan pada organisasi politik yang dikelola atas basis komunitas tempat tinggal. Dreams menyajikan perjuangan Obama mengorganisasi ”mikropolitik” yang mudah diberdayakan ke skala lebih besar, mulai dari tingkat kota, regional, sampai nasional. Ia memulai awal karier politik di Chicago tahun 1983. Ia tinggalkan gaji besar di pasar saham Wall Street, New York, untuk menjadi community organizer alias politisi. ”Perubahan bukan slogan kosong yang datang dari atas, tetapi dari pengalaman berpolitik di akar rumput,” kata Barry.

Ia organisator komunitas di Calumet, Chicago selatan, yang dihuni kalangan bawah dari warna kulit yang berwarna-warni. Dana bagi politisi ”bau kencur” macam Obama datang dari kalangan kaya, kota praja, pebisnis, atau para donor di luar negeri. Gajinya pas-pasan, jadwal hariannya bagai ”diuber setan”, dan akhir pekan dia habiskan untuk belajar lagi.

Ia datangi rumah warga satu per satu mendata masalah mereka, mulai dari selokan mampat, leding air tak menetes, sampai bagaimana caranya mengusir para muncikari. Tak jarang ia ditolak, diusir, bahkan dimaki. Di Altgeld Gardens, Chicago selatan, Barry mencari lowongan bagi penganggur menyusul penutupan sejumlah small and medium enterprises (SME) atau pabrik-pabrik yang produk-produknya kalah bersaing dengan kualitas barang-barang serupa dari luar negeri.

Barry memaksa kota praja membongkar asbestos di apartemen karena bahan bangunan itu menjadi sumber penyakit kanker hati. Ia tak segan mengerahkan pendemo atau memanfaatkan pers untuk membongkar konspirasi pebisnis dengan politisi. Secara perlahan tetapi pasti, warga mendengar rekor Barry yang akhirnya memimpin CCRC. Ia sukses menambah jumlah organisasi antikenakalan remaja, membuat sistem manajemen sampah, memperbaiki jalan raya, membersihkan selokan, dan membuat sistem keamanan mandiri.

Barry politisi yang merangkak dari bawah, yang telah membuktikan politik pengabdian tak kenal lelah, yang jika diseriusi pasti membuahkan hasil. Ia matang berkat ”politik eceran” (retail politics) yang rajin ditekuninya dengan menggeluti topik hubungan luar negeri, UU kode etik politisi, kesejahteraan rakyat miskin, pendidikan anak, masalah veteran, kesehatan, pendidikan, buruh, pensiunan, sampai pembasmian flu burung.

diambil dari Kompas Kamis, 6 November 2008 | 09:56 WIB tulisan Budiarto Shambazy

Categories: Bebas | 3 Komentar

Navigasi pos

3 thoughts on “Indonesia Masuk dalam Buku Tulisan Obama “The Audacity of Hope (2006)”

  1. Sagitarius

    euy…gw yg pertama comment nih, pokoknya salut euy sama obama tapi jangan lp kalo saking girangnya obama jadi presiden dapur enggak kita pikirin, he…, artinya kita juga harus bisa seperti dia, buktikan kemampuan kita dulu baru komentar sebabibu apapun, intinya kita bisa gak menjalani kemampuan yang kita miliki, “tapi ingat jangan lupa kalo sdh jadi orang besar, ingat kacang sama kulit dan belajar menjadi padi, insya allah kemana2 kita melangkah, orang akan mengingat kita selalu akan kebaikan kita” he…he…ini cuma saran kecil aja semoga menjadi tauladan tentang keberhasilan Presiden Obama aja menjadi Presiden Kulit Hitam Ke-44 di USA. BRAVO OBAMA….BRAVO JUGA TOEK PEMILU PRESIDEN DI INDONESIA.

  2. Terimakasih yah coment dan nasehatnya, semoga sukses selalu dan tak lupa ilmu padi.

  3. wisanggeni

    mantwap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: